Mencari Pemimpin Yang Adil


Orang-orang yang berlaku adil itu kelak di sisi Allah berada di atas mimbar cahaya. Mereka itu orang-orang yang berlaku adil dalam memberikan hukum kepada keluarganya dan kepada rakyatnya.'' (Bukhari Muslim)

Khalifah Umar bin Abdul Aziz merupakan salah satu sosok pemimpin kaum
Muslimin yang sangat peduli pada rakyat. Ia juga dikenal sebagai pekerja
keras. Khalifah Umar bahkan seringkali bekerja sampai malam untuk
menyelesaikan tugas-tugas kenegaraan yang tidak sempat diselesaikannya di
siang hari. Suatu ketika putranya memasuki kamar kerjanya seraya
berkata, ''Saya ingin membicarakan masalah pribadi dan keluarga yang sangat
penting dengan ayah.''

Ketika mendengar ucapan putranya, Umar bin Abdul Azis mematikan lampu
minyak yang menerangi kamar kerjanya, hingga gelap gulita. Ia lalu
berkata, ''Anakku, engkau pasti heran mengapa aku matikan lampu ini.
Ketahuilah, engkau datang untuk membicarakan urusan pribadi, sedangkan
lampu minyak itu milik rakyat. Betapa kita harus mempertanggungjawabkannya
di hadapan Allah kelak bahwa ada pemimpin rakyat membicarakan masalah
keluarganya dengan memakai fasilitas rakyat.''

Inilah wujud pelaksanaan ajaran Islam dalam masalah kepemimpinan. Pemimpin
bertanggung jawab melayani rakyat dan sekaligus melaksanakan amanat Allah.
Untuk tipikal pemimpin seperti itu, Rasulullah bersabda, ''Orang-orang yang
berlaku adil itu kelak di sisi Allah berada di atas mimbar cahaya. Mereka
itu orang-orang yang berlaku adil dalam memberikan hukum kepada keluarganya
dan kepada rakyatnya.'' (Bukhari Muslim). Saat mengomentari sikap adil ini,
sejarahwan Kristen Mesir, Jurji Zeidan, mengungkapkan, ''Zaman khalifah-
khalifah yang alim merupakan masa keemasan Islam. Para #khalifah itu
terkenal karena kesederhanaan, kealiman, dan keadilannya.''

Menjadi pemimpin itu bukan mencari kekayaan, tetapi untuk mengabdi. Menjadi
pemimpin berarti melaksanakan ibadah yang paling berat, mengemban amanat
rakyat dan Allah. Ia selalu mengikatkan seluruh perbuatannya pada syariat
Islam karena ia takut kepada Allah. Ada dimensi vertikal di sini. Bukankah
Allah selalu mengawasinya? Rasulullah bersabda, ''Tiada seorang hamba yang
diberi amanat Allah untuk memimpin rakyat kemudian menipu mereka, melainkan
Allah mengharamkan surga baginya.'' (HR Bukhari Muslim)

Apabila keadaan masyarakat sudah sangat materialistis, kemuliaan seseorang
hanya diukur berdasarkan harta yang dimilikinya, maka godaan paling besar
bagi para pemimpin, birokrat, dan penguasa, itu tidak lain adalah harta.
Para pemimpin atau wakil rakyat yang imannya lemah, niscaya akan mudah
terperangkap dalam penjara hawa nafsu, yaitu mumpungisme, korupsi, dan
kolusi. Penguasa dan pengusaha bersekongkol untuk mencari pembenaran atas
perbuatannya. Bagi mereka itu bisa jadi kebenaran adalah kebohongan yang disepakati.
Nauzubillahi min zalik! 


Menjadi pemimpin itu bukan mencari kekayaan, tetapi untuk mengabdi. Menjadi
pemimpin berarti melaksanakan ibadah yang paling berat, mengemban amanat
rakyat dan Allah
4.5
Follow us: @budikamila on Twitter | budi kamila on Facebook

Bai'at 'Aqabah Kedua

Pada musim haji tahun ke-13 dari kenabian (bulan Juni tahun 622 M),datanglah sebanyak hampir 70 orang kaum Muslimin dari Madinah untuk menunaikan manasik haji. Mereka datang bersama rombongan para jema'ah haji dari kaum mereka yang masih musyrik. Kaum muslimin tersebut saling bertanya diantara mereka -saat mereka masih berada di Yatsrib atau sedang dalam perjalanan- hingga kapan mereka harus membiarkan Rasulullah berkeliling, diusir di lereng-lereng bukit dan diancam?.

Tatkala tiba di Mekkah, terjadilah kontak rahasia antara mereka dan Rasulullah yang menghasilkan kesepakatan diantara kedua belah pihak untuk berkumpul pada pertengahan hari-hari Tasyriq di celah yang terletak di samping 'Aqabah, tempat dimana terdapat Jumrah ula di Mina. Pertemuan ini terlaksana melalui proses yang sangat rahasia di dalam kegelapan malam.

Marilah kita biarkan salah seorang pemimpin kaum Anshar menceritakan sendiri secara spesifik pertemuan historis tersebut yang telah merubah peredaran hari-hari perseteruan antara berhalaisme (paganisme) dan Islam,dia adalah Ka'b bin Malik al-Anshary radliyallâhu 'anhu :

"Kami berangkat untuk melaksanakan manasik haji dan sebelumnya telah berjanji untuk bertemu dengan Rasulullah di 'Aqabah pada pertengahan hari-hari Tasyriq. Kami dijanjikan pada malam harinya sementara bersama kami hadir 'Abdullah bin 'Amr bin Haram, salah seorang pemimpin dan orang terpandang di kalangan kami. Kami mengajaknya bersama kami -dalam hal ini, kami merahasiakan urusan ini kepada kaum Musyrikin dari kaum kami yang ikut rombongan juga-, lalu kami berbicara kepadanya dan berkata: 'Wahai Abu Jabir! Sesungguhnya engkau ini adalah salah seorang pemimpin kami dan orang terpandang diantara kami. Kami tidak suka kondisi anda saat ini akan menjadikan anda sebagai kayu bakar api neraka kelak. Kemudian kami mengajaknya kepada Islam dan memberitahukannya perihal janji kami bertemu dengan Rasulullah di 'Aqabah. Lalu dia masuk Islam dan menghadiri Bai'atul Aqabah bersama kami dan dia termasuk pemimpinnya".

Ka'b melanjutkan: "Lalu kami tidur pada malam itu bersama kaum kami di kendaraan hingga ketika sudah mencapai sepertiga malam, kami keluar dari kendaraan menuju tempat perjanjian dengan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam, dengan menyusup ala kucing dan sembunyi-sembunyi. Akhirnya kami berkumpul di celah dekat 'Aqabah. Jumlah kami, 30 orang laki-laki dan dua orang perempuan, yaitu Nasibah binti Ka'b (Ummu 'Ammar) dari Bani Mazin bin an-Najjar dan Asma` binti 'Amr (Ummu Mani') dari Bani Salamah.

Kami berkumpul di celah itu sembari menunggu kedatangan Rasulullah. Beliau pun datang bersama pamannya al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib yang ketika itu masih memeluk agama kaumnya akan tetapi ingin menghadiri urusan yang tengah diikuti oleh anak saudaranya (keponakannya), dia memberikan dukungannya dan dia pulalah orang pertama yang berbicara" .

Permulaan Pembicaraan Dan Penjelasan Al-'Abbas Akan Dampak Serius Darinya Setelah majlis dipersiapkan, dimulailah pembicaraan-pembicaraan untuk mengesahkan perjanjian persekutuan agama dan militer. Orang pertama yang berbicara adalah al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib, paman Rasulullah. Dia berbicara untuk menjelaskan kepada mereka secara gamblang akan dampak serius yang akan mereka pikul di pundak mereka akibat dibuatnya persekutuan tersebut. dia berkata:

"Wahai kaum Khazraj! - Orang-orang Arab menamakan kaum Anshar sebagai Khazraj dan mencakup suku Aus juga- sesungguhnya Muhammad berasal dari kami sebagaimana yang kalian ketahui, kaum kami yang satu pandangan dengan kami telah melarangnya padahal dia dibanggakan oleh kaumnya dan dilindungi di negerinya akan tetapi dia justeru hanya berpihak kepada kalian dan menjumpai kalian. Jika kalian melihat bahwa kalian dapat memenuhi apa yang kalian ajak dia kepadanya dan dapat melindunginya dari orang yang menentangnya, maka itu adalah hak kalian, berikut resiko yang harus ditanggung. Dan jika kalian melihat bahwa kalian justeru akan menyerahkan dirinya dan menghinakannya setelah dia keluar menyongsong kalian, maka dari sekarang tinggalkanlah dia karena sesungguhnya dia masih dibanggakan dan diberi perlindungan oleh kaum dan negerinya".
Ka'b berkata: "Lalu kami berkata kepadanya:'Kami telah mendengar apa yang telah engkau utarakan, maka berbicaralah wahai Rasulullah! Ambillah untuk dirimu dan Rabbmu apa yang engkau sukai".
Jawaban ini menunjukkan sikap mereka (kaum Anshar) yang telah memiliki tekad bulat, keberanian, iman dan keikhlasan di dalam mengemban tanggungjawab yang besar ini, sekaligus dampak-dampaknya yang serius.

Setelah itu, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam memberikan penjelasannya, kemudian barulah terjadi pembai'atan.

Poin-Poin Bai'at

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Jabir secara rinci. Jabir berkata: "Kami berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah! Untuk hal apa kami membai'atmu?". Beliau bersabda:
    1. Untuk mendengarkan dan ta'at (loyal) di dalam kondisi fit dan kurang fit.
    2. Untuk berinfaq di dalam masa sulit dan senang.
    3. Untuk berbuat amar ma'ruf dan nahi munkar
    4. Untuk tegak di jalan Allah, kalian tidak peduli dengan celaan si
pencela selama dilakukan di     jalan Allah.
    5. Untuk menolongku manakala aku datang kepada kalian, kalian
melindungiku dari hal yang biasa kalian lakukan untuk melindungi diri kalian sendiri, isteri-isteri dan anak-anak kalian.
Jika hal ini kalian lakukan, maka surgalah bagi kalian".

Di dalam riwayat Ka'b (yang diriwayatkan oleh Ibn Ishaq), hanya poin
terakhir diatas saja yang ada, disana disebutkan:

"Ka'b berkata: 'Lalu Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam berbicara seraya membacakan ayat al-Qur'an, berdoa kepada Allah dan mensugesti mereka untuk masuk Islam, kemudian bersabda: 'Aku membai'at kalian untuk melindungiku dari hal yang biasa kalian lakukan untuk melindungi isteri-isteri dan anak-anak kalian'. Lalu al-Barâ`bin Ma'rur memegangi tangan beliau sembari berkata: 'Ya, Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan haq sebagai Nabi, sungguh kami akan melindungimu dari hal yang biasa kami lakukan untuk melindungi jiwa dan isteri-isteri kami. Bai'atlah kami, wahai Rasulullah! Sesungguhnya terdapat tali-temali diantara kami dan orang-orang Yahudi dan kami akan memutusnya. Apakah kiranya kelak bila kami lakukan hal itu, lantas Allah memenangkanmu, engkau akan kembali lagi ke haribaan kaummu dan membiarkan kami?'.

Ka'b berkata: "Lantas Rasulullah pun tersenyum kemudian bersabda: 'Bahkan darah kalian adalah darahku, kehancuran kalian adalah kehancuranku juga. Aku adalah bagian dari kalian dan kalian adalah bagian dariku, aku akan memerangi orang yang kalian perangi dan mengadakan perdamaian dengan orang yang kalian adakan perdamaian dengannya' ".

Penegasan Kembali Akan Dampak Serius Dari Bai'at

Setelah pembahasan tentang syarat-syarat bai'at rampung dan mereka bersepakat untuk segera melangsungkannya, berdirilah dua orang laki-laki dari angkatan pertama yang masuk Islam pada dua musim lalu, yaitu tahun 11 H dan 12 H dari kenabian. Salah seorang berdiri, lalu dilanjutkan oleh seorang lagi untuk mempertegas kepada para hadirin akan dampak serius dari resiko yang harus diambil sehingga mereka tidak hanya sekedar membai'at kecuali setelah benar-benar mengetahui secara jelas perihalnya. Demikian pula, keduanya ingin mengetahui seberapa jauh persiapan para hadirin untuk berkorban dan mendapatkan kepastian akan hal itu.
Ibn Ishaq berkata: "Tatkala mereka berkumpul untuk berbai'at, berkatalah al-'Abbas bin 'Ubadah bin Nadllah: 'Apakah kalian mengetahui untuk apa kalian berbai'at terhadap orang ini (Nabi Muhammad- red)?. Mereka menjawab: 'Ya'. Dia berkata lagi: 'Sesungguhnya kalian akan membai'atnya untuk memerangi orang-orang berkulit merah dan hitam. Jika kalian nantinya melihat bahwa bilamana harta kalian musnah karena tertimpa musibah dan para pemuka kalian dibunuh akan menyerahkannya, maka, demi Allah, mulai dari sekarang, bila kalian lakukan itu, akan menjadi kehinaan bagi kalian di dunia dan akhirat. Dan jika kalian nantinya melihat akan mampu menepati janji apa yang kalian ajak dia kepadanya sekalipun harta musnah dan para pemuka kalian terbunuh, maka ambillah dia sebab, Demi Allah, hal itu adalah baik buat kalian di dunia dan akhirat'.

Mereka berkata: 'Kalau begitu, kami akan mengambilnya sekalipun harta kami
ditimpa musibah dan para pemuka kami terbunuh karenanya. Wahai Rasulullah!
Apa imbalannya terhadap hal itu bilamana kami dapat menepatinya?'.

Beliau menjawab: 'Surga'. Lalu mereka berkata: 'Bentangkan tanganmu!'.
Kemudian beliau membentangkan tangannya lantas merekapun membai'atnya".

Dalam riwayat Jabir, dia (al-'Abbas bin 'Ubadah-red) berkata: "Maka kami
berdiri untuk membai'atnya. Lalu As'ad bin Zurarah -yang merupakan orang
paling muda dari 70 peserta tersebut- memegang tangan beliau Shallallâhu
'alaihi wa sallam. Namun dia (al-'Abbas) malah berkata:

'Sebentar, wahai Ahli Yatsrib! Sesungguhnya kita tidak akan sepenuh hati
mendukungnya kecuali kita mengetahui betul bahwa dia adalah Rasulullah.
Sesungguhnya, membawanya keluar saat ini berarti memisahkan diri dari
orang-orang Arab secara keseluruhan, membunuh orang-orang pilihan kalian
dan pedang siap menebas kalian. Karenanya, kalian akan bersabar atas hal
itu lalu mengambilnya dan kalian mendapatkan pahala dari Allah. Atau kalian
mengkhawatirkan diri kalian celaka lalu kalian biarkan saja dia dan hal itu
adalah alasan paling logis di sisi Allah.

'Aqad Bai'at

Setelah penetapan poin-poin bai'at dan mendapatkan kepastian, maka
dimulailah 'aqad Bai'at dengan cara saling bersalam-salaman.

Setelah menghikayatkan ucapan As'ad bin Zurarah tersebut, Jabir berkata:
"Lalu mereka berkata: 'Wahai As'ad! Bentangkan tanganmu kepada kami, demi
Allah, kami tidak akan meninggalkan bai'at ini dan tidak pula
menyambutnya".

Ketika itu barulah As'ad menyadari betapa besarnya kesiapan orang-orang
Anshar tersebut untuk berkorban di jalan ini dan diapun dapat memastikan
hal itu sebagai seorang da'i besar bersama Mush'ab bin 'Umair dan orang
yang lebih dahulu mengukuhkan bai'at ini.
Ibn Ishaq berkata: "Bani an-Najjar mengklaim bahwa Abu Umamah, As'ad bin
Zurarah adalah orang pertama kali membentangkan tangan bai'at ke atas
tangan Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam".
Setelah itu, dimulailah bai'at umum. Dalam hal ini, Jabir berkata:"Lalu
kami mendatangi orang per-orang dan beliau Shallallâhu 'alaihi wa sallam
mengambil bai'at kami untuk memberikan surga bagi kami dengan hal itu".

Sedangkan bai'at yang dilakukan oleh dua orang wanita yang menyaksikan
kejadian itu adalah berupa ucapan saja, sebab Rasulullah Shallallâhu
'alaihi wa sallam tidak pernah menyalami wanita asing sama sekali.

Dua Belas Orang Pemimpin Pilihan

Setelah bai'at rampung, Rasulullah meminta agar dipilih 12 orang kepala
kaum untuk menjadi pemimpin bagi kaum mereka, mengemban tanggung jawab
terhadap mereka di dalam melaksanakan poin-poin bai'at tersebut. Beliau
berkata kepada mereka: "Seleksilah 12 orang pemimpin di kalangan kalian
untuk menjadi penanggung jawab terhadap apa yang terjadi dengan kaum
kalian".
Seketika itu juga pemilihan mereka dilaksanakan dan mereka masing-masing 9
orang dari kalangan suku Khazraj dan 3 orang dari kalangan suku Aus.
Nama-nama mereka adalah sebagai berikut:
A. Para Pemimpin Terpilih Suku Khazraj
    1. As'ad bin Zurarah bin 'Ads
    2. Sa'd bin ar-Rabi' bin 'Amr
    3. 'Abdullah bin Rawahah bin Tsa'labah
    4. Rafi' bin Malik bin al-'Ajlan
    5. al-Bara` bin Ma'rur bin Shakhr
    6. 'Abdullah bin 'Amr bin Haram
    7. 'Ubadah bin ash-Shamit bin Qais
    8. Sa'd bin 'Ubadah bin Dulaim
    9. al-Mundzir bin 'Amr bin Khunais

B. Para Pemimpin Terpilih Suku Aus
    1. Usaid bin Hudlair bin Sammak
    2. Sa'd bin Khaitsamah bin al-Harits
    3. Rifa'ah bin 'Abdul Mundzir bin Zubair

Setelah pemilihan para pemimpin terpilih tersebut selesai, Nabi Shallallâhu
'alaihi wa sallam mengambil perjanjian lain terhadap mereka ini sebagai
para pemimpin pilihan yang diserahi tanggung jawab.
Beliau berkata kepada mereka: "Kalian bertanggung jawab terhadap kaum
kalian sebagaimana yang pertanggungjawaban kaum Hawariyin terhadap 'Isa bin
Maryam 'alaihissalam. Sedangkan aku adalah penanggung jawab bagi kaumku
(yakni kaum Muslimin)". Mereka berkata: "Ya".  
4.5

Kesuksesan Yang Mengesankan

M ush'ab singgah terlebih dahulu ke kediaman As'ad bin Zurarah, lalu
keduanya menyebarkan Islam kepada para penduduk Yatsrib dengan
sungguh-sungguh dan penuh vitalitas. Mush'ab ini dikenal sebagai Muqri`
(orang yang ahli mengaji dan bacaannya merdu-red).

Salah satu cerita kesuksesan yang amat menawan dari dirinya adalah saat
suatu hari As'ad bin Zurarah mengajaknya ikut serta keluar menuju rumah
Bani 'Abdul Asyhal dan rumah Bani Zhafar. Keduanya lantas memasuki salah
satu pagar milik Bani Zhafar dan duduk-duduk di atas sebuah sumur yang
disebut Maraq. Ketika dalam kondisi demikian, berkerumunlah ke tempat
mereka berdua beberapa orang dari kaum Muslimin. Saat itu, Sa'd bin Mu'adz
dan As-yad bin Hudlair - keduanya ini adalah pemimpin kaum mereka dari Bani
'Abdul Asyhal - masih dalam kesyirikan. Tatkala keduanya mendengar perihal
kaum Muslimin tersebut, berkatalah Sa'd kepada As-yad: "Pergilah menuju
kedua orang yang sudah datang untuk membodohi kaum lemah di kalangan kita,
lalu berilah keduanya pelajaran serta laranglah mereka datang ke komplek
kita ini. Sesungguhnya, As'ad bin Zurarah tersebut adalah anak bibiku,
andaikata bukan karena ikatan itu, niscaya cukuplah aku yang memb
ereskannya".

Lalu As-yad mengambil tombaknya dan menuju ke arah kedua orang pendatang
tersebut. Ketika As'ad melihatnya, dia berkata kepada Mush'ab: "Ini adalah
pemimpin kaumnya, dia telah datang kepadamu karena itu, tunjukkanlah
kebenaran dari Allah kepadanya".
Mush'ab berkata: "Bila dia mau duduk, aku pasti berbicara kepadanya".
As-yad datang lalu berdiri di hadapan keduanya sembari mengumpat dan
berkata: "Apa yang kalian berdua bawa kepada kami? Kalian mau membodohi
orang-orang lemah di kalangan kami? Menjauhlah dari kami, jika kalian
berdua masih memerlukan nyawa kalian!".
Mush'ab menjawab: "Sudikah kiranya anda duduk dulu lalu mendengar; jika
anda berkenan, silahkan anda terima; jika anda tidak berkenan, tahanlah apa
yang anda tidak sukai itu dari diri anda".
Dia membalas: "Ya, aku setuju". Lalu dia membenahi tombaknya dan duduk.
Kemudian Mush'ab berbicara kepadanya tentang Islam dan membacakan ayat-ayat
al-Qur'an.
Dia lalu berkomentar: "Demi Allah! Kami sudah mengenal Islam dari wajahnya
sebelum dia berbicara; kecerahannya dan gema takbirnya". Kemudian dia
meneruskan: "Alangkah indahnya ini dan cantiknya?. Lalu, apa yang kalian
perbuat, bila kalian mau masuk ke dalam dien ini?".
Keduanya berkata: "Anda mandi, membersihkan pakaian, kemudian bersyahadat
dengan syahadat al-Haq, kemudian mengerjakan shalat dua raka'at".
Dia lalu berdiri, mandi, membersihkan pakaiannya, bersyahadat dan
mengerjakan shalat dua raka'at, kemudian berkata: "Sesungguhnya aku ini
berada di bawah misi seorang laki-laki yang bila dia mengikuti kalian
berdua, tidak ada seorangpun dari kaumnya yang berani membelakanginya
(tidak mengikutinya). Aku akan membimbingnya (Sa'd bin Mu'adz) kepada
kalian berdua sekarang. Kemudian dia berlalu dan membawa tombaknya menuju
Sa'd yang berada di tengah kaumnya dan sedang duduk-duduk di club mereka.

Sa'd berkata (melihat kedatangan As-yad, red): "Aku bersumpah, demi Allah!
Sungguh dia telah datang dengan penampilan yang amat berbeda dari sebelum
berpaling dari kalian tadi".
Tatkala As-yad berdiri di tengah club tersebut, Sa'd berkata kepadanya:
"Apa gerangan yang telah kau lakukan?".
Dia menjawab: "Aku telah berbicara kepada kedua orang tadi, demi Allah! Aku
melihat tidak ada apa-apa dengan keduanya. Aku telah melarang keduanya,
bahkan keduanya berkata: 'kami akan melakukan apa yang engkau inginkan'.
Aku juga sudah menceritakan bahwa Bani Haritsah telah keluar untuk
membunuhnya (As'ad bin Zurarah) sehingga membuatmu malu. Hal ini mereka
lakukan, karena sudah mengetahui bahwa dia adalah anak bibimu. Sa'd berdiri
dengan penuh emosi atas apa yang barusan diceritakan kepadanya. Dia lalu
mengambil tombaknya dan keluar untuk menyongsong keduanya (Mush'ab dan
As'ad). Maka, tatkala dia melihat keduanya dalam kondisi yang tenang-tenang
saja, pahamlah dia bahwa As-yad hanya bermaksud agar dirinya mendengarkan
sesuatu dari keduanya. Diapun berdiri di hadapan keduanya sembari mengumpat
dan berkata kepada As'ad bin Zurarah: "Demi Allah, wahai Abu Umamah!
Andaikata tidak ada dinding kekerabatan antara engkau dan aku, tentu engkau
tidak mengingingkan hal ini dariku; eng kau akan menyelimuti kami dengan
sesuatu yang kami tidak sukai di komplek kami ini?".
As'ad pun sebelumnya telah berkata kepada Mush'ab: "Demi Allah, telah
datang kepadamu ini seorang pemimpin kaumnya; jika dia mengikutimu, maka
tidak akan ada seorang pun yang ketinggalan untuk mengikutimu dari mereka.
Lalu Mush'ab berkata kepada Sa'd bin Mu'adz: "Sudikah kiranya anda duduk
dulu dan mendengarkan? Jika anda berkenan, anda boleh terima dan jika anda
tidak berkenan, kami akan menjauhkan darimu apa yang anda tidak sukai itu".
Dia berkata: "Ya, aku setuju". Lalu dia membenahi tombaknya dan duduk.
Mush'ab mulai memaparkan kepadanya tentang Islam dan membacakan ayat
al-Qur'an.
Dia berkomentar: "Demi Allah, kami sudah mengenal Islam di wajahnya sebelum
berbicara dalam kecerahannya dan gema takbirnya". Kemudian dia berkata:
"Apa yang kalian lakukan bila kalian masuk Islam?".
Keduanya menjawab: "Anda mandi, membersihkan pakaian, kemudian bersyahadat
dengan syahadat al-Haq, kemudian mengerjakan shalat dua raka'at". Kemudian
dia melakukan hal itu.
Setelah itu, dia meraih tombaknya lalu beranjak menuju club kaumnya.
Tatkala mereka melihatnya, berkatalah mereka: "Kami bersumpah atas nama
Allah, sungguh dia telah pulang dengan penampilan yang berbeda dengan
ketika saat pergi tadi".
Ketika dia sudah berdiri di hadapan mereka, dia berkata: "Wahai Bani 'Abdul
Asyhal! Bagaimana pendapat kalian terhadap diriku?".
Mereka menjawab: "Pemimpin kami, orang yang paling utama pendapatnya bagi
kami dan orang yang paling mulia keturunannya".
Dia berkata lagi: "Sesungguhnya ucapan kaum laki-laki dan kaum wanita di
kalangan kalian saat ini haram bagiku hingga kalian beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya". Akhirnya tidak ada seorang laki maupun wanita dari mereka
kecuali sudah menjadi Muslim dan Muslimah selain satu orang yang bernama
al-Ashram. Dia terlambat masuk Islam hingga hari Uhud. Dia masuk Islam pada
ketika itu, ikut berperang dan terbunuh padahal dia belum sempat sujud satu
kalipun ke hadapan Allah Ta'ala.
Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda, mengomentarinya: "Dia telah
melakukan sedikit tetapi diberi pahala banyak".

Mush'ab masih menginap di rumah As'ad bin Zurarah guna mengajak manusia ke
jalan Allah, hingga hasilnya, tidak satu rumahpun dari rumah-rumah
orang-orang Anshar kecuali di dalamnya sudah ada laki-laki dan wanita yang
masuk Islam. Dalam hal ini, hanya rumah Bani Umayyah bin Zaid, Khathmah dan
Wa-`il dimana ada seorang penyair mereka yang bernama Qais bin al-Aslat
yang menghalang-halangi keislaman mereka karena dia amat dita'ati. Barulah
pada perang Khandaq, tahun 5 H mereka masuk Islam.

Sebelum memasuki musim haji kedua, yakni tahun ke-13, Mush'ab bin 'Umair
kembali ke Mekkah dengan membawa sekian cercahan laporan kesuksesan kepada
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam. Dia menceritakan kepada beliau
perihal kabilah-kabilah di Yatsrib, bawaan-bawaan alami yang baik dan
tersimpannya sumber kekuatan dan mental baja padanya.

Bai'at 'Aqabah Pertama


Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, kami pernah menyinggung perihal enam
orang dari yatsrib yang telah masuk islam pada musim haji tahun 11 h dari
kenabian dan berjanji kepada rasulullah untuk menyampaikan risalah beliau
kepada kaum mereka.

Dari hasil itu, ternyata pada musim haji berikutnya, yakni tahun 12 H dari
kenabian, tepatnya bulan Juli tahun 621 M datanglah 12 orang laki-laki,
diantaranya lima orang dari enam orang yang dulu pernah menghubungi beliau
shallallâhu 'alaihi wa sallam pada musim lalu. Sedangkan seorang lagi yang
tidak hadir kali ini adalah Jabir bin 'Abdullah bin Ri`ab. Adapun 7 orang
baru lainnya adalah:
1. Mu'âdz bin al-Hârits, Ibn 'Afrâ` dari Bani an-Najjar (suku khazraj)
2. Dzakwân bin 'Abd al-Qîs dari Bani Zuraiq (suku Khazraj)
3. 'Ubâdah bin ash-Shâmit dari Bani Ghanam (suku Khazraj)
4. Yazîd bin Tsa'labah, sekutu Bani Ghanam (suku Khazraj)
5. al-'Abbâs bin 'Ubâdah bin Nadllah dari suku Bani Salim (suku Khazraj)
6. Abu al-Haytsam bin Ali Tayhân dari suku Bani 'Abd al-Asyhal (suku Aus)
7. 'Uwaim bin Sâ'idah dari Bani 'Amr bin 'Auf (suku Aus)

Jadi, dua orang terakhir berasal dari suku Aus, sedangkan sisanya berasal
dari suku Khazraj.
Mereka ini bertemu dengan Rasululullah di sisi bukit 'Aqabah di Mina,
mereka lalu membai'at beliau seperti bai'at yang pernah dilakukan oleh kaum
wanita kepada beliau ketika penaklukan kota Mekkah (Fat-hu Mekkah).

Imam al-Bukhary meriwayatkan dari 'Ubâdah bin ash-Shâmit bahwasanya
Rasulullah bersabda: "Kemarilah berbai'at kepadaku untuk tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatupun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh
anak-anak kamu, tidak berbuat dusta yang kalian ada-adakan antara tangan
dan kaki kalian dan tidak berbuat maksiat terhadapku dalam hal yang ma'ruf.
Siapa saja diantara kamu yang menepati, maka Allah-lah yang akan mengganjar
pahalanya dan siapa saja yang mengenai sesuatu dari hal itu lalu diberi
sanksi karenanya di dunia, maka itu adalah penebus dosa baginya, siapa saja
yang mengenai sesuatu dari itu lalu Allah tutup aibnya, maka urusannya
tergantung kepada Allah; jika Dia menghendaki, Dia mengazabnya dan jika Dia
menghendaki, Dia akan mema'afkannya".
'Ubâdah berkata: "Lalu aku membai'at beliau atas hal itu". Dalam naskah
yang lain disebutkan: "Lalu kami membai'atnya atas hal itu".

Duta Islam Pertama Di Madinah

Setelah bai'at tersebut rampung dan musim hajipun berlalu, Nabi Shallallâhu
'alaihi wa sallam ingin mengutus salah seorang dari para pembai'at tersebut
sebagai duta pertama di Madinah guna mengajarkan syari'at Islam kepada kaum
Muslimin di sana, memberikan pemahaman tentang Dien al-Islam serta bergerak
menyebarkan Islam di kalangan mereka yang masih dalam kesyirikan.
Untuk pendutaan ini, beliau memilih seorang pemuda Islam yang merupakan
as-Sâbiqûn al-Awwalûn (orang-orang yang pertama-tama masuk Islam), yaitu
Mush'ab bin 'Umair al-'Abdary radliyallâhu 'anhu.
BERSAMBUNG....

PROFIL PRIBADI MUSLIM 2

5. Mutsaqqoful Fikri Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur'an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: 'pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.' Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan.' Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219).
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).
6. Mujahadatul Linafsihi. Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.
Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7. Harishun Ala Waqtihi. Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.
Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.' Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi.  Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.
9. Qodirun Alal Kasbi. Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur'an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.
10. Nafi'un Lighoirihi. Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.
Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing. Oleh : Drs. H. Ahmad Yani

PROFIL PRIBADI MUSLIM 1

Al-Qur'an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur'an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt. Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim. Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim. 1. Salimul Aqidah Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam' (QS 6:162).
Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da'wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.
2. Shahihul Ibadah. Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: 'shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.' Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah >Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq. Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur'an, Allah berfirman yang artinya: 'Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung' (QS 68:4).
4. Qowiyyul Jismi. Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: 'Mu'min yang kuat lebih aku cintai daripada mu'min yang lemah' (HR. Muslim).  bersambung...

LAA ILAAHA ILLALLAH


Mayoritas kaum muslimin sekarang ini yang telah bersaksi Laa Ilaaha Illallah
(Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) tidak memahami
makna Laa Ilaaha Illallah dengan baik, bahkan barangkali mereka memahami
maknanya dengan pemahaman yang terbalik sama sekali. Saya akan memberikan
suatu contoh untuk hal itu : Sebagian di antara mereka (Dia adalah Syaikh
Muhammad Al-Hasyimi, salah seorang tokoh sufi dari thariqah Asy-Syadziliyyah
di Suriah kira-kira 50 tahun yang lalu) menulis suatu risalah tentang makna
Laa Ilaaha Illallah, dan menafsirkan dengan "Tidak ada Rabb (pencipta dan
pengatur) kecuali Allah" !! Orang-orang musyrik pun memahami makna seperti
itu, tetapi keimanan mereka terhadap makna tersebut tidaklah bermanfaat bagi
mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Artinya : Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : 'Siapakah
yang menciptakan langit dan bumi ?' Tentu mereka akan menjawab : 'Allah'. "
[Luqman : 25].

Orang-orang musyrik itu beriman bahwa alam semesta ini memiliki Pencipta
yang tidak ada sekutu bagi-Nya, tetapi mereka menjadikan tandingan-tandingan
bersama Allah dan sekutu-sekutu dalam beribadah kepada-Nya. Mereka beriman
bahwa Rabb (pengatur dan pencipta) adalah satu (esa), tetapi mereka meyakini
bahwa sesembahan itu banyak. Oleh karena itu, Allah membantah keyakinan ini
yang disebut dengan ibadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada
Allah melalui firman-Nya :

"Artinya :Dan orang-orang yang mengambil perlindungan selain Allah (berkata)
: 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah dengan sedekat-dekatnya'". [Az-Zumar : 3].

Kaum musyrikin dahulu mengetahui bahwa ucapan Laa Ilaaha Illallah
mengharuskannya untuk berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah
Azza wa Jalla. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, menafsirkan
kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah ini dengan : "Tidak ada Rabb (pencipta
dan pengatur) kecuali Allah". Padahal apabila seorang muslim mengucapkan Laa
Ilaaha Illallah dan dia beribadah kepada selain Allah disamping beribadah
kepada Allah, maka dia dan orang-orang musyrik adalah sama secara aqidah,
meskipun secara lahiriah adalah Islam, karena dia mengucapkan lafazh Laa
Ilaaha Illallah, sehingga dengan ungkapan ini dia adalah seorang muslim
secara lafazh dan secara lahir.

Dan ini termasuk kewajiban kita semua sebagai da'i Islam untuk menda'wahkan
tauhid dan menegakkan hujjah kepada orang-orang yang tidak mengetahui makna
Laa Ilaaha Illallah dimana mereka terjerumus kepada apa-apa yang menyalahi
Laa Ilaaha Illallah. Berbeda dengan orang-orang musyrik, karena dia enggan
mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, sehingga dia bukanlah seorang muslim secara
lahir maupun batin. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, mereka
orang-orang muslim, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
:

"Artinya : Apabila mereka mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah), maka kehormatan
dan harta mereka terjaga dariku kecuali dengan haknya, dan perhitungan
mereka atas Allah Subhanahu wa Ta'ala". ]Hadits Shahih diriwayatkan oleh
Al-Bukhari (25) dan pada tempat lainnya, dan Muslim (22), dan selainnya,
dari hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhum]

Oleh karena itu, saya mengatakan suatu ucapan yang jarang terlontar dariku,
yaitu : Sesungguhnya kenyataan mayoritas kaum muslimin sekarang ini adalah
lebih buruk daripada keadaan orang Arab secara umum pada masa jahiliyah yang
pertama, dari sisi kesalahpahaman terhadap makna kalimat tahyyibah ini,
karena orang-orang musyrik Arab dahulu memahami makna Laa Ilaaha Illallah,
tetapi mereka tidak mengimaninya. Sedangkan mayoritas kaum muslimin sekarang
ini mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka yakini, mereka mengucapkan :
'Laa Ilaaha Illallah' tetapi mereka tidak mengimani -dengan sebenarnya-
maknanya. (Mereka menyembah kubur, menyembelih kurban untuk selain Allah,
berdo'a kepada orang-orang yang telah mati, ini adalah kenyataan dan hakikat
dari apa-apa yang diyakini oleh orang-orang syi'ah rafidhah, shufiyah, dan
para pengikut thariqah lainnya, berhaji ke tempat pekuburan dan tempat
kesyirikan dan thawaf di sekitarnya serta beristighatsah (meminta tolong)
kepada orang-orang shalih dan bersumpah dengan (nama) orang-orang shalih
adalah merupakan keyakinan-keyakinan yang mereka pegang dengan kuat).

Oleh karena itu, saya meyakini bahwa kewajiban pertama atas da'i kaum
muslimin yang sebenarnya adalah agar mereka menyeru seputar kalimat tauhid
ini dan menjelaskan maknanya secara ringkas. Kemudian dengan merinci
konsekuensi-kosekuensi kalimat thayyibah ini dengan mengikhlaskan ibadah dan
semua macamnya untuk Allah, karena ketika Allah Azza wa Jalla menceritakan
perkataan kaum musyrikin, yaitu :

"Artinya : Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan
kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". [Az-Zumar : 3]

Allah menjadikan setiap ibadah yang ditujukan bagi selain Allah sebagai
kekufuran terhadap kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah.

Oleh karena itu, pada hari ini saya berkata bahwa tidak ada faedahnya sama
sekali upaya mengumpulkan dan menyatukan kaum muslimin dalam satu wadah,
kemudian membiarkan mereka dalam kesesatan mereka tanpa memahami kalimat
thayyibah ini, yang demikian ini tidak bermanfaat bagi mereka di dunia
apalagi di akhirat !.

Kami mengetahui sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

"Artinya : Barangsiapa mati dan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang
berhak diibadahi kecuali Allah dengan ikhlas dari hatinya, maka Allah
mengharamkan badannya dari Neraka" dalam riwayat lain : "Maka dia akan masuk
Surga". [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (5/236), Ibnu Hibban (4)
dalam Zawa'id dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3355)].

Maka mungkin saja orang yang mengucapkan kalimat thayyibah dengan ikhlas
dijamin masuk Surga. meskipun setelah mengucapkannya menerima adzab terlebih
dahulu. Orang yang meyakini keyakinan yang benar terhadap kalimat thayyibah
ini, maka mungkin saja dia diadzab berdasarkan perbuatan maksiat dan dosa
yang dilakukannya, tetapi pada akhirnya tempat kembalinya adalah Surga.

Dan sebaliknya barangsiapa mengucapkan kalimat tauhid ini dengan lisannya,
sehingga iman belum masuk kedalam hatinya, maka hal itu tidak memberinya
manfaat apapun di akhirat, meskipun kadang-kadang memberinya manfaat di
dunia berupa kesalamatan dari diperangi dan dibunuh, apabila dia hidup di
bawah naungan orang-orang muslim yang memiliki kekuatan dan kekuasaan.
Adapun di akhirat, maka tidaklah memberinya manfaat sedikitpun kecuali
apabila :

[1] Dia mengucapkan dan memahami maknanya.
[2] Dia meyakini makna tersebut, karena pemahaman semata tidaklah cukup
kecuali harus dibarengi keimanan terhadap apa yang dipahaminya.

Saya menduga bahwa kebanyakan manusia lalai dari masalah ini ! Yaitu mereka
menduga bahwa pemahaman tidak harus diiringi dengan keimanan. Padahal
sebenarnya masing-masing dari dua hal tersebut (yaitu pemahaman dan
keimanan) harus beriringan satu sama lainnya sehingga dia menjadi seorang
mukmin. Hal itu karena kebanyakan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan
Nashrani mengetahui bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah
seorang rasul yang benar dalam pengakuannya sebagai seorang rasul dan nabi,
tetapi pengetahuan mereka tersebut yang Allah Azza wa Jalla telah
mepersaksikannya dalam firman-Nya.

"Artinya : Mereka (ahlul kitab dari kalangan Yahudi dan Nashara) mengenalnya
(Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri ...." [Al-Baqarah :
146 & Al-An'am : 20]

Walaupun begitu, pengetahuan itu tidak bermanfaat bagi mereka sedikitpun !
Mengapa ? Karena mereka tidak membenarkan apa-apa yang diakui oleh beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa nubuwah (kenabian) dan risalah
(kerasulan). Oleh karena itu keimanan harus didahului dengan ma'rifah
(pengetahuan). Dan tidaklah cukup pengetahuan semata-mata, tanpa diiringi
dengan keimanan dan ketundukan, karena Al-Maula Jalla Wa' ala berfirman
dalam Al-Qur'an :

"Artinya : Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi
kecuali Allah dan mohon ampunlah atas dosa mu ......." [Muhammad : 19].

Berdasarkan hal itu, apabila seorang muslim mengucapkan Laa Ilaaha Illallah
dengan lisannya, maka dia harus menyertakannya dengan pengetahuan terhadap
kalimat thayyibah tersebut secara ringkas kemudian secara rinci. Sehingga
apabila dia mengetahui, membenarkan dan beriman, maka dia layak untuk
mendapatkan keutamaan-keutamaan sebagaimana yang dimaksud dalam
hadits-hadits yang telah saya sebutkan tadi, diantaranya adalah sabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai isyarat secara rinci :

"Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka bermanfaat
baginya meskipun satu hari dari masanya". [Hadits Shahih. Dishahihkan oleh
Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1932) dan beliau menyandarkan
kepada Sa'id Al-A'rabi dalam Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim dalam Al-Hidayah
(5/46) dan Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath (6533), dan daia dari Hadits Abu
Hurairah Radhiyallahu 'Anhu]

Yaitu : Kalimat thayyibah ini -setelah mengetahui maknanya- akan menjadi
penyelamat baginya dari kekekalan di Neraka. Hal ini saya ulang-ulang agar
tertancap kokoh di benak kita.

Bisa jadi, dari tidak melakukan konsekuensi-konsekuensi kalimat thayyibah
ini berupa penyempurnaan dangan amal shalih dan meninggalkan segala maksiat,
akan tetapi dia selamat dari syirik besar dan dia telah menunaikan apa-apa
yang dituntut dan diharuskan oleh syarat-syarat iman berupa amal-amal hati
-dan amal-amal zhahir/lahir, menurut ijtihad sebagian ahli ilmu, dalam hal
ini terdapat perincian yang bukan disini tempat untuk membahasnya- (Ini
adalah aqidah Salafus Shalih, dan ini merupakan batas pemisah kita dengan
khawarij dan murji'ah). Da dia berada dibawah kehendak Allah, bisa jadi dia
masuk ke Neraka terlebih dahulu sebagai balasan dari kemaksiatan-kemaksiatan
yang dia lakukan atau kewajiban-kewajiban yang ia lalaikan, kemudian kalimat
thayyibah ini menyelamtkan dia atau Allah memaafkannya dengan karunia dan
kemuliaan-Nya. Inilah makna sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
yaitu :

Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka ucapannya ini
akan memberi manfaat baginya meskipun satu hari dari masanya". [Hadits
Shahih. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1932) dan
beliau menyandarkan kepada Sa'id Al-A'rabi dalam Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim
dalam Al-Hidayah (5/46) dan Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath (6533), dan daia
dari Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu]

Adapun orang yang mengucapkan dengan lisannya tetapi tidak memahami
maknanya, atau memahami maknanya tetapi tidak mengimani makna tersebut, maka
ucapan Laa Ilaaha Illaallah-nya tidak memberinya manfaat di akhirat,
meskipun di dunia ucapan tersebut masih bermanfaat apabila ia hidup di bawah
naungan hukum Islam.

Oleh karena itu, harus ada upaya untuk memfokuskan da'wah tauhid kepada
semua lapisan masyarakat atau kelompok Islam yang sedang berusaha secara
hakiki dan bersungguh-sungguh untuk mencapai apa yang diserukan oleh seluruh
atau kebanyakan kelompok-kelompok Islam, yaitu merealisasikan masyarakat
yang Islami dan mendirikan negara Islam yang menegakkan hukum Islam di
seluruh pelosok bumi manapun yang tidak berhukum dengan hukum yang Allah
turunkan.

Kelompok-kelompok tersebut tidak mungkin merealisasikan tujuan yang telah
mereka sepakati dan mereka usahakan dengan sungguh-sungguh, kecuali
memulainya dengan apa-apa yang telah dimulai oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, agar tujuan tersebut bisa menjadi kenyataan.

[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia
TAUHID, Prioritas Pertama dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani, hal 16-26, terbitan Darul Haq, penerjemah Fariq Gasim Anuz]